Showing posts with label Engineering System. Show all posts
Showing posts with label Engineering System. Show all posts

Bahan dan Proses Pembuatan Sampah

A. Pengambilan Bahan Dasar Kompos
Bahan dasar kompos yang saat ini kami buat adalah dengan memanfaatkan sampah-sampah tanaman yang ada di sekitar lingkungan. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tempat-tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya sampai penuh, setelah itu baru dilakukan proses pembuatannya.

B. Proses Pembuatan Kompos
Pada dasarnya pembuatan kompos tidaklah sukar. Denga mengumpulkan bahan-bahan organic, maka bahan-bahan tersebut akan menjadi kompos dengan sendirinya. Namun proses dengan cara semacam ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Dengan mengetahui perubbahan-perubahan yang tejadi saat pembentukan kompos, maka proses pembentukan kompos bisa lebih dipecepat lagi, dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi,kecepatan dan keberhasilan pembentukan kompos dipengaruhi oleh beberapa factor seperti bahan baku, suhu, nitrogen dan juga tingkat kelembabannya.
Pembuatan kompos adalah sangat banyak manfaatnya karena cukup dengan memanfaatkan kekayaan alam yang semula terbuang. Alam telah menyediakan bahan bakunya secara berlimpah. Kita dapat memanfaatkan sisa-sisa tanaman yang terbuang seperti daun lamtoro, daun munggur, daun sukun serta daun-daun dan sampah hijau lainnya menjadi kompos sebagai pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi tanaman dan ramah lingkungan.

Meskipun semua bahan organik bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuat kompos, akan tetapi ada beberapa bahan limbah yang tidak boleh digunakan dalam pembuatan kompos karena bisa menimbulkan bau busuk dan dapat menimbulkan bibit penyakit. Beberapa contoh bahan yang harus dihindari yaitu:
• daging, tulang dan duri-duri ikan.
• produk-produk yang berasal dari susu.
• sisa-sisa makanan berlemak.
• kotoran hewan piaraan seperti anjing dan kucing.

Langkah / Proses pembuatan kompos secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Dalam pembuatan kompos, hal pertama yang harus dilakukan adalah persiapan, baik bahan baku maupun tenpatnya. Setelah semuanya siap, baulah dilakukan tahap-tahap pembuatannya.

1. Persiapan
Bahan-bahan organic yang akan dikomposkandipotong ataou dicacah aga proses pegomposannya bisa berlangsung lebih cepat. Selain itu untu mempecepat proses pengomposan bisa ditambah dengan mencampurkan pupuk kandang. Semua bahan ini setelah siap lalu dimasukkan ke dalam tempat yang suda dipersiapkan sebelumnya.

Bahan Baku yang sudah siap, segera dimasukkan ke tempat ini
Untuk menjaga agar tidak tegenang sewaktu hujan, dan juga untuk mempercepat proses permentasi, maka tempat ini harus ditutup dan diberi lobang oksigen seperlunya untuk menjaga kelangsungan hidup mikro organisme yang ada di dalamnya.

2. Tahapan Pembuatan Kompos
Ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu :
Selama satu sampai dua hari diperciki air sampai lembab tetapi tidak sampai menjadi becek.
Pemantauan suhu, bisa dilakukan dengan cara memasukkan tongkat kayu kedalam tumpukan sampah, lalu mengeluarkannya, bila tongkat kering berarti kelembabannya kuang, sehingga perlu di bolak balik dan diperciki air lagi. Bila tongkat kayu basah(lembab) berarti suhunya cukup lembab. Cara lain mengukur bisa dilakukan dengan memegang baha kompos (kelembaban ideal ditandai dengan bahan yang basah, tetapi tidak ada air yang menetes)

3. Pembalikan dan Penyiaman
Pembalikan dilakukan bla terjadi tumpuksn terlalu basah atau terlalu kering.

4. Pematangan
Pada hari ke-45 biasanya tumpukan sudah memasuki masa pematanga. Kompos yang matang ditandai dengan
• suhu tumpukan yang menurun mendekati suhu ruang,
• tidak berbau busuk,
• bentuk fisik menyerupai tanah, dan
• berwarna kehitam-hitaman.
Pematangan ini bisa berlangsung selama 14 hari.

5. Pengayakan Kompos
Tujuan dilakukan pengayakan adalah agar memperoleh :
• ukuran kompos yang sesuai dengan yang dikehendaki,
• untuk memilah bahan yang belum terkomposkan secara sempurna, dan
• untuk mengendalika mutu kompos.

6. Penyimpanan
Kompos yang sudah disaring, dikemas ke dalamkantung atau karung. Setelah itu disimpan di tempat yang kering dan aman.

Pernikahan, Pengamalan Ilmu Sistem dalam Lingkup Keluarga


Pernikahan adalah sebuah harapan semua orang. Sebenarnya salah satu tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah dengan dilandasi rasa cinta antara kedua mempelai. Tujuan yang lain tentu saja mengamalkan ilmu sistem, yaitu sistem keluarga yang harmonis dan bahagia.

Keluarga adalah sebuah sistem dimana dalam keluarga tidak bisa terbentuk tanpa adanya networking. Nah Networking sendiri adalah pilar pokok dalam sebuah sistem. Tidak mungkin kita menikah tanpa mempelai perempuan bukan ? Tidak mungkin kita menikah tanpa mengenal siapa pasangan kita. Sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya, ini jaman Teknologi informasi dimana hamir setiap insan mempunyai alat yang namanya Handphone. Hampir semua orang yang masih muda pada saat ini mengenal apa itu jejaring sosial semacam Facebook dan twitter yang akan menggiring manusia itu sendiri untuk saling mengenal.

Walaupun harus kita sadari ada sedikit dampak negatif adanya jejaring sosial seperti maraknya perselingkuhan dan prostitusi. Tapi bukankah manfaat yang diperoleh jauh lebih besar ketimbang kerugian. Nah disini, Sebuah Pernikahan adalah termasuk dampak yang sangat positif dari Networking.

Dalam ilmu sistem, Sebuah pernikahan akan berjalan mulus tatkala didukung sepenuhnya oleh semua pilar sistem itu sendiri. Keharmonisan sebuah keluarga tak hanya tugas dari suami atau istri saja, tetapi keduanya harus kompak. Anak juga sangat menentukan bagaimana keluarga bahagia akan terbentuk, begitu juga dengan lingkungan sekitar, kondisi ekonomi, latar belakang pendidikan dan lain sebagainya. Dalam ilmu sistem semuanya harus bersinergi dengan baik sehingga tujuan pembentukan keluarga akan tercapai secara optiman, ... Next time

Membangun Networking = Membangun Kekuatan Sistem

Jika kita ada sedang bersilaturahmi kerja (Networking) maka sesungguhnya kita sudah membangun pilar-pilar sistem dengan kuat. Sistem tidaklah menjadi sistem jika tidak ada kerjasama dari berbagai pihak yang saling terkait. Bukankah kita tahu bahwa sebatang lidi tidaklah mampu membersihkan lantai rumah ? Sebatang lidi akan menjadi sangat bermanfaat tatkala kita gabung dengan lidi lain dan kita ikat menjadi sebuah sapu. Tapi bukankah sapu itu juga tak ada gunanya tatkala tidak ada manusia yang mau membersihkan ? Inilah yang kami maksud mengapa bekerja sama itu penting.

Seorang advertiser selalu membutuhkan publiser. Seorang publiser dan seorang advertiser memerlukan sebuah perusahaan yang mampu menjembatani mereka. Nah disinilah networking itu sangat diperlukan.

Nabi Muhammad berulangkali bersabda bahwa silaturahmi itu dapat membuka pintu rizki. Bukan tanpa alasan, tatkala Nabi memberikan ajaran yang begitu mulia kepada kita. Inilah sebetulnya pola pikir yang sangat komprehensif, Bagaimana mungkin hanya dengan sebuah silaturahmi seseorang akan dibukakan lebar-lebar pintu riski oleh Tuhannya.

Membangun Networking = Membangun kekuatan sistem, coba lihatlah foto di postingan ini. Foto para blogger se Jogjakarta dalam acara Kopdar di Pondok Cabe Jalan C Simanjutak, yang dilanjutkan di Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta bersama Co IBN. Hal ini sesungguhnya merupakan sebuah contoh Networking dan mulai dirintis dalam dunia blogger dan IBN. Inilah kekuatan luar biasa dalam dunia blog, sehingga akan terjadi sinergi antara publiser dan advertiser.

System Thinking, Kerangka Berfikir Komprehensif

Banyak orang yang masih berfikir parsial/sepotong-sepotong dalam menyikapi suatu masalah. Akibatnya pemecahan masalah (Problem Solving) yang ditawarkan juga sepotong-sepotong, sehingga masalah tidak dapat dipecahkan secara maksimal. Nah berpijak dari sinilah kami mencoba menelaah apa yang telah ditulis oleh Dr-Ing. Agus Maryono dalam bukunya "Pola Pikir Sistem" yang mengulas habis tentang kerangka berfikir sistemik dalam membangun bangsa.

Kita bisa ambil contoh seperti yang kami alami di dunia pendidikan, misalnya ada siswa yang terpaksa tidak lulus. Hal ini tidak bisa kita hanya menyalahkan karena siswa yang bodoh atau siswa yang kurang beruntung. Karena tidak semua siswa yang bodoh tidak lulus. Nah sebenarnya masalah seperti ini memang perlu tinjauan secara sistemik. Ketidaklulusan satu siswa banyak sekali faktor yang kemungkinan menjadi penyebabnya, misalnya siswa itu sendiri memang dasarnya bodoh atau pintar tapi salah dalam menghitamkan jawaban di LJK, bisa guru yang kurang perhatian, bisa karena pengawasnya yang menakutkan, bisa karena soal yang yang diterima tertukar atau salah dalam menulis kode, bisa menghitamkan jawabannya kurang hitam sehingga tidak masuk ketika di scan dan masih banyak kemungkinan penyebab lainnya.

Nah dalam mengambil kebijakan pemegang stakeholder mestinya harus menyelesaikan permasalahan secara sistemik. Atau dengan kata lain diselesaikan secara komprehensif, mulai dari input, proses, elemen sampai output yang diharapkan. Penyelesaian suatu masalah dengan mengedepankan pola pikir sistemik akan memperoleh hasil yang maksimal karena semua faktor-faktor pendukung memang dioptimalkan. Ntar lain kali kita lanjutkan dalam postingan berikutnya, masih banyak contoh perilaku dan pola pikir sistemik yang perlu dikembangkan.