Review For Oversase Training Hari Pertama

Review For Oversase Training Hari Pertama
Pertama kali Kunjungan yang kami lakukan adalah ke ‘Hashimoto Elementary Scholl” di Yawata City, Kyoto. Kesan pertama begitu menggoda, Kami turun dari mobil sudah disambut hangat oleh pihak sekolah. Semangat mereka memang luar biasa, kelihatan dari gaya bicara dan cara berjalan yang cepat. 

Suasana sekolah yang demikian bersih dan rapi memberikan kesan tersendiri. Pada saat kami masuk kami harus melepas sepatu kami dan mengganti dengan selop punya sekolah. Hal ini mungkin dilakukan untuk menjaga ruang kelas tetap bersih, karena selop hanya digunakan di dalam ruang saja.

Acara pertama yang harus diikuti adalah acara seremonial pembukaan bersama kepala sekolah Hashimoto Elementary Scholl dan Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga DIY beserta tim leader dari Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia. Seremonial diisi sambutan, perkenalan oleh masing-masing peserta serta guru-guru di Hashimoto Elementary Scholl serta tanya jawab seputar pendidikan di Hashimoto Elementary Scholl.
Sesuatu hal yang sangat menarik ternyata di Hashimoto Elementary Scholl dan mungkin sekolah lain di Jepang adalah bahwa tidak ada siswa yang tidak naik kelas, semuanya naik kelas. Jika siswa nilainya tidak mencapai standar maka guru harus membimbing siswa tersebut sampai siswa tersebut dapat mencapai nilai yang distandarkan sekolah.
Hebatnya lagi sekolah di Kyoto terutama SD penerimaan siswa baru tidak didasarkan atas prestasi/nilai tapi berdasarkan kewilayahan. Siswa yang diterima diutamakan yang dekat dengan sekolah atau berada diwilayah sekolah tersebut. Hal ini tidak akan menimbulkan persaingan yang ketat dalam penerimaan siswa baru.
Satu hal lagi yang menarik kalau kita perhatikan dari sisi teknologi, ternyata kebanyakaan sekolah di Jepang menggunakan kran otomatis sehingga tidak terjadi pemborosan air. Bahkan air kranpun dari sisi kesehatan steril sehingga siap untuk diminum kapan saja.

Di Hashimoto Elementary Scholl siswa tidak khawatir kelaparan meskipun pulang sekolah jam 16.00 karena tepat jam 12.00 siang ada makan siang bersama. Makan siang ini biayanya ditanggung wali murid. Sedangkan biaya pendidikan keseluruhan ditanggung negara tetapi hanya untuk sekolah negeri. Sekolah swasta rata-rata pertahun membayar sekitar 1.000.000 yen atau setara dengan 100.000.000 rupiah. Lumayan besar untuk masyarakat Indonesia. 

Ada hal lagi yang menarik dari sisi kesehatan dan kehidupan sosial di Hashimoto Elementary Scholl, dimana siswa pulang pergi ke sekolah dengan jalan kaki, meskipun jarak rumah mereka sekitar 1-2 km. Mereka harus pulang berkelompok dan bersama-sama sehingga tinjauan dari sisi kehidupan sosial sangat banyak. Tak ada satupun siswa yang menggunakan sepeda apalagi antar jemput dengan mobil. Jika ternyata sampai rumah orang tua mereka belum sampai rumah mereka dapat mengunjungi Kid Garden (tempat makan dan bermain anak).

Pembelajaran yang ada dikelas terlihat sangat interaktif meskipun diajar oleh guru kelas. Penggunaan TIK dapat dilihat pada saat kami mengunjungi pembelajaran yang dilakukan di laboratorium komputer. Mereka menggunakan LAN untuk interaksi antar siswa dan guru. Ini bagi anak merupakan hal yang sangat menarik karena mereka dapat membangun opini masing-masing. Dan di sini nampak sekali disiplin diterapkan. Bahkan dalam pengerjaan tugas, guru memasang timer sehingga waktu benar-benar tepat.

Satu lagi hampir kelupaan, Ternyata pembiasaan yang dilakukan di Hashimoto Elementary Scholl sangat bagus. Disamping anak-anak pulang pergi jalan kaki, makan siang setiap hari, mereka juga dibiasakan selalu sikat gigi setelah makan siang. Selalu berdoa sebelum makan meskipun sekedar mengucapkan Mass (Thanks Food), ucapan terima kasih pada makanan. Selesai makan tempat makan harus dikembalikan secara terpisah. Untuk siswa Hashimoto Elementary Scholl terlihat mereka tidak menggunakan seragam sekolah seperti kebanyakan sekolah di SMP dan SMA di Jepang

Pelajaran yang dapat diambil untuk Yogyakarta adalah :
1. Hargailah waktu, mulai dan berakhir pas sesuai jadwal
2. Jadikan IT sebagai sarana yang tepat untuk menyampaikan materi pembelajaran
3. Jadikan siswa sebagai subjek didik, biarkan mereka bereksplorasi tentang materi pelajaran
4. Jadikan kebersihan setiap ruang dengan penggunaan selop khusus dengan melepas sepatu mereka dan menempatkan di tempat yang sudah di sediakan.

4 comments:

  1. Pengen rasanya sekolah lagi jadi anak SD di Jepang. Pengen lebih disiplin. Disiplin juga dipengaruhi oleh aturan dan lingkungan. Di Jepang lah yang paling cocok untuk mendidik kedisiplinan.

    ReplyDelete
  2. hebat di jepang semua siswa naik kelas, mantap :D

    ReplyDelete
  3. betul mas, di Jepang emang disiplinnya sangat tinggi sehingga patut kita contoh. Semua siswa tidak ada yang tidak naik kelas, karena memang mereka sangat menghargai proses

    ReplyDelete
  4. Pantas Jepang sangat maju. Pendidikannya benar2 keren. Tidak seperti di Negeri kita tercenta ini, pendidikan justru kurang diprioritaskan. Padahal dengan pendidikan yang baik, maka akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang baik pula.

    ReplyDelete